Indonesiaku, Indonesia Bebas Korupsi

Posted: November 14, 2012 in Indonesia

Image

Sebuah Satire

Seorang pemuda berkeinginan melamar pekerjaan di sebuah lembaga, akan tetapi penerima lamaran menggerak-gerakkan tangannya sebagai isyarat: jika ingin diterima sebagai pegawai maka harus ada ‘pelicin’ sebagai kompensasinya. Spontan, sang pemuda beranjak pergi sembari mengumpat: dasar rampok! Beberapa saat setelah ia keluar kantor itu, ia tersandung sesuatu. Tanpa sadar ternyata yang ia sepak adalah sebuah lampu jin. Sang jin pun keluar. Ia berkata: ku beri satu permintaan, monggo. Sang pemuda pun menjawab: (saya) mau korupsi, pungli, sogo’an hilang dari muka bumi, bisa jin? Kemudian sang jin menghela nafas sejenak lalu berujar: bisa diatur…wani piro? Sang pemuda pun terkejut tanpa habis pikir bahwa sampai di dunia per-jin-an pun perlu ada ‘pelicin’ jika ingin permintaan seseorang ingin terpenuhi.

Paragraf pertama merupakan ringkasan saya terhadap sebuah iklan salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia. Iklan yang sebenarnya tidak ada kaitan dan hubungan dengan produk yang dipasarkan. Karena justru iklan tersebut merupakan sebuah satire atau sindiran terhadap kondisi negeri kita saat ini. Negara yang berada pada urutan keseratus (100) dari 182 negara dalam hal indeks korupsi, yang berarti Indonesia hanya lebih baik dari 82 negara yang tersisa.[1] Ini menunjukkan bahwa negara ini perlu dibenahi, bukan hanya pada pelaku alias koruptor, melainkan juga pada tata sistem yang melingkupinya. Sebab, berbicara korek api bukan hanya fokus pada apinya, melainkan juga pada keutuhan suatu sistem yang terbangun dalam korek api, sehingga ketika ia ditekan ia menyala.

Sebuah Ironi

Benar, ironis memang, ketika bangsa yang sebesar ini memiliki indeks korupsi yang lumayan tinggi sehingga ditempatkan pada urutan keseratus dari negara yang dinilai paling bersih dari korupsi, yakni New Zealand. Padahal terdapat sekian juta perut lapar rakyat miskin yang meronta-ronta karena tidak sanggup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Negara tidak (atau belum?) mampu memenuhi kebutuhan sandang pangan mereka, karena uang negara telah habis dikikis oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

Korupsi, ada pada kehidupan nyata kita, di depan kita. Tidak hanya dalam konteks makro di pemerintahan, tetapi juga dalam konteks mikro. Korupsi, seakan telah mendarah daging dengan masyarakat negeri kita. Sehingga kita telah menganggapnya sebagai sebuah hal yang biasa. Padahal, korupsi merupakan sebuah kejahatan sosial yang berdampak sistemik bagi kelangsungan hidup banyak orang. Korupsi, bukan hanya soal mengambil, tapi juga menipu. Bukan hanya sekedar mencuri, tapi juga mengkhianati. Bagaimana tidak, uang negara yang dihasilkan dari peluh keringat rakyat secara diam-diam ditilap; anggaran proyek dibesar-besarkan (atau dalam bahasa yang lain, digelembungkan), sisanya masuk kas pribadi sebagai ‘uang lelah’ atau sebagaimana yang telah kita singgung di atas, sebagai ‘pelicin’. Artinya, korupsi tidak lagi menjadi tabu. Ia telah menjadi ‘makanan’ familiar bagi kehidupan kita. Akan tetapi, di sisi yang lain ia telah menjadi sebuah tantangan untuk kita, untuk memberantas korupsi, dengan tidak hanya menjadikannya sebuah ironi.

Introspeksi, Evaluasi, dan Benahi

Korupsi tidak hadir dengan sendirinya, ia ada karena situasi dan kondisi di sekitarnya mendukungnya untuk terjadi. Sebagaimana filosofi korek api. Begitupun korupsi, ia terlahir dalam suatu tatanan sistem yang terkondisikan, aman dan tak terawasi. Atau yang dalam uraian seorang budayawan, Emha Ainun Nadjib, disebut dengan teori habitat. Emha menulis:

“… jangan berpikir bahwa habitat narkoba hanya pemakai narkoba ‘saja’. Jangan berpikir bahwa pelaku korupsi adalah koruptor saja, sebab mereka melakukan korupsi ‘berkat’ adanya faktor-faktor lain yang komprehensif yang memungkinkannya melakukan korupsi. Tegasnya, kita semua ‘menanggung dosa’ sistemik dan struktural atas penyalahgunaan obat terlarang, atas korupsi, juga atas munculnya apa yang kemudian terpaksa kita sebut dengan aliran sesat. Ada dimensi-dimensi sosial di mana kita semua telah melakukan ketidakbertanggungjawaban kolektif atas sejumlah nilai dasar kehidupan bermasyarakat dan bernegara: sehingga suburlah ketiga ‘narkoba’ itu.”[2]

Dalam uraian itu, Emha ingin menyampaikan bahwa perlu ada perluasan fokus terhadap korupsi yang mengakar di negeri ini. Artinya, jangan hanya terpaku pada proses hukum terpidana kasus korupsi, walaupun juga bukan berarti harus diabaikan. Karena korupsi timbul dan lahir dari banyak faktor, tidak mungkin ia terjadi tanpa ada bantuan atau persetujuan pihak lain yang menga-amini tindakan korupsi tersebut. Oleh karenanya, korupsi merupakan kejahatan sosial yang berdampak sistemik dalam kehidupan. Karena efek dan dampak yang diakibatkan oleh tindak korupsi ini berhubungan erat dengan hajat hidup orang banyak.

Oleh sebab itu, perlu ada introspeksi dalam tatanan sistem pemerintahan negara di dalam mengelola kebijakan dan mendistribusikan uang rakyat. Juga evaluasi terhadap kinerja, sistem pengawasan, transparansi dan hal-hal yang berkaitan dengan etos kerja pemerintahan. Untuk kemudian dicari formula yang tepat guna membenahi sistem dan segala hal yang dapat menekan tindak pidana korupsi, demi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Karena korupsi adalah keji, dan oleh karenanya ia wajib dibasmi. Dan saya yakin jika tiga hal itu benar-benar diterapkan, Indonesia, beberapa tahun ke depan (bahkan seterusnya) bisa menjadi lebih baik, menjadi Indonesia bersih: Indonesia yang bebas korupsi. Amin.


[2] Emha Ainun Nadjib, Jejak Tinju Pak Kiai, cet. Ke-III, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008), hlm. 28.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s