Bukan Pahlawan

Posted: November 22, 2012 in Refleksi

Aku bukan pahlawan berparas tampan

sayap-sayap pupus terbakar

salah benar semua pernah kulakukan

agar gelas kita bersulang

Superman Is Dead (Bukan Pahlawan)

Beberapa waktu yang lalu kita memperingati Hari Pahlawan, tepatnya pada 10 November (entah kita benar-benar ingat atau tidak). Hari dimana semangat berkobar Bung Tomo dkk untuk mengusir penjajah, yang sebelumnya telah mendapat fatwa atau bahasa kerennya ‘resolusi jihad’ dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang mengatakan bahwa setiap laki-laki yang berada pada radius + 80 km dari Surabaya wajib mengangkat senjata. Dan hingga kini peristiwa itu menjadi sebuah catatan sejarah yang akhirnya menjadi salah satu hari peringatan nasional.

Tapi di saat ini, penjajahan sudah berganti rupa dan modus. Sosok pahlawan bukanlah lagi ‘pahlawan’ sebagaimana arti tempo doeloe. Pahlawan, kini bisa ditafsiri beragam. Ia multitafsir, di saat konteks penjajahan terhadap negeri kita, dan bahkan terhadap diri kita sendiri telah menjadi beragam pula. Karena pahlawan pada masa kini bukan lagi sosok seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pattimura, Sultan Hasanuddin, atau pahlawan-pahlawan nasional lainnya. Bukan juga sebagaimana superhero isapan jempol amerika seperti Spiderman, Batman, Captain America, Fantastic Four, Superman dan lain sebagainya. Atau pahlawan-pahlawan milik kita sendiri yang lahir dari kisah-kisah lokal, seperti Si Buta dari Gua Hantu, Wiro Sableng, Kamandanu, hingga Suliwa. Dalam artian, jangan sesekali mempersempit term pahlawan hanya berkutat pada penghapusan terhadap imperialisme atau penjajahan. Tapi pahlawan adalah ia yang mampu mengalahkan egonya (baca; nafsunya).

Kenapa harus nafsu? Ya, karena nafsu adalah musuh kita yang paling halus, lembut, bahkan hampir tak terdeteksi jika kita tak menyadari. Setiap masing-masing dari kita, Allah telah menitipkan empat macam nafsu. Yakni nafsu lawwamah, ammarah, shofiyyah dan muthma’innah. Dari empat macam nafsu itu, hanya tiga yang harus kita taklukkan. Yang satu, adalah berfungsi sebagai pemegang kendali dari ketiganya: muthmainnah harus bisa menaklukkan ketiga nafsu lainnya. Jika sudah begitu maka seseorang akan termasuk sebagai hamba-Nya dan akan diperintahkan masuk ke surga-Nya (ya ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki radliyatam mardliyyah, fadkhuli fi ibadi, fadkhuli jannati).

Sebaliknya, jika ketiga nafsu itu yang mengendalikan muthma’innah, maka tak ada bedanya manusia dengan bukan manusia. Sesaat setelah melakukan peperangan bersama para sahabat, Nabi saw pernah bersabda: “Baru saja kita melewati jihad ashgar (perang kecil) dan setelah ini kita akan menghadapi jihad akbar (perang besar)”. Sahabat pun bertanya: “Apa itu wahai Rasul?”. Nabi menjawab: “Yakni perang melawan hawa nafsu.”

Terbukti, perang melawan hawa nafsu adalah perang yang berat. Hanya karena nafsu si kaya tak mau menyisihkan hartanya kepada si miskin; pejabat dengan tanpa rasa berdosa mengkorup uang negara, uang hidup hajat orang banyak; karena nafsu pula si bos selingkuh dengan sekretaris; sebab nafsu, juragan memperkosa pembantu; guru menganiaya murid; dan seabrek kebobrokan perbuatan lainnya.

Bayangkan, hanya karena nafsu yang tak terlihat, manusia bisa lebih rendah derajatnya daripada binatang. Oleh karenanya, sudah saatnya kita menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri yang dengan gagah berani, menyelamatkan hidup kita sendiri dari penjajahan nafsu yang begitu abstrak. Sehingga dengan begitu, kita bisa menjadi manusia yang mulia di sisi-Nya. Jika nafsu telah takluk, maka ketakwaan kita otomatis akan meningkat kualitas dan kuantitasnya. Inna akromakum ‘indallahi atqokum. Tak perlulah kiranya kita ingin menjadi orang terkenal, menjadi orang terpandang yang diburu banyak orang. Itu semua tipu muslihat nafsu. Sebab, menjadi terkenal, tak menjamin Anda akan disanjung malaikat langit karena ibadah Anda. Yang ada hanyalah ancaman siksa yang dengan setia menanti Anda.

Dus, menjadi pahlawan adalah sebuah keniscayaan. Masing-masing dari kita harus menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri, untuk membebaskan diri dari penjajahan nafsu. Setelah itu, secara berkelanjutan otomatis kita akan menjadi pahlawan bagi anak istri kita, orangtua, keluarga, lebih-lebih dalam sekup yang lebih luas: kepada masyarakat. Dengan begitu, kita layak menjadi pahlawan walau kita tak berparas tampan.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s