Indonesia… Aku Mencintaimu

Posted: November 22, 2012 in Indonesia

Indonesia, adalah ibu yang melahirkanku. Ibu yang membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Karena ia, memberiku asupan gizi yang cukup dengan sayuran yang melimpah. Tumbuh-tumbuhan di sana-sini. Dan sejauh mata memandang, warna hijau tak terkirakan. Ia beri aku protein dari hasil ternak yang tak pernah habis. Sehingga diriku menjadi kuat tak terkikis.

Indonesia, memberiku keleluasaan menyinggahi setiap lekuk tubuh indahnya. Elok nian. Begitu banyak tetangga yang iri, sehingga selalu saja penasaran dan ingin pula menyinggahi. Bahkan, sampai mengklaim bahwa apa yang lahir dari Ibu Pertiwi adalah milik tetangga itu. Betapa tak tahu dirinya mereka.

Indonesia, betapa besar jasamu melindungiku, sehingga memberiku kenyamanan setiap kali aku terlelap dalam tidurku. Tanpa pernah merasa terganggu ataupun merasa takut bila ada yang akan mengusikku.

Indonesia, kau mengajariku bagaimana caranya bertoleransi terhadap sesama; mengajariku bagaimana memaafkan tetangga-tetangga yang selalu saja mengusik; dan juga mengajariku cara untuk berbesar hati ketika kau dihujat, dihina, direndahkan, bahkan ketika diinjak-injak sekalipun. Dari situ aku tahu, bahwa kau memiliki kemuliaan jiwa, selalu saja berlapang dada, dan memiliki kedewasaan dalam berpikir untuk menghadapi segala. Hingga, walau kau ditimpa berbagai bencana yang membuat dunia melirik dan bersimpati kepadamu, kau tetap tegar. Berdiri kokoh, bagai tembok baja yang tak pernah runtuh.

Kau, memberiku arti bagaimana caranya menghadapi hidup dengan bijak. Betapa kau membuatku terbentuk dengan sikap bijakmu itu. Sampai aku bingung, bagaimana caraku membalas semua jasa besarmu padaku.

Kau, membuatku kikuk setiap kali aku ditanya oleh tetangga, “Apa yang telah kau perbuat kepada Ibu Pertiwimu?” Tak bisalah aku menjawab. Seakan mulutku tergagap, tidak keluar sepatah katapun. Dan hati ini, hanya bisa menahan penyesalan penuh ratap. Betapa tidak pantasnya aku, menjadi anak yang kau besarkan dengan segala kebesaran jasamu. Aku, bingung bagaimana caraku membalasnya.

Benar saja, aku terlampau bingung. Cukupkah jika ku menjadi tentara yang bisa selalu melindungimu?; menjadi dokter yang bisa kapanpun menyembuhkan lukamu setiap kali kau terluka?; menjadi guru yang mampu mengajarimu?; menjadi penulis yang bisa mendiktemu huruf per huruf?; atau menjadi pemuka agama yang setiap saat bisa menceramahimu dengan khutbah-khutbah yang membosankan itu?

Aku tak pernah tahu, betapa jasamu tak terkirakan. Sampai-sampai, ketika nafasku tak berhembus lagi, kau tetap setia memelukku. Ketika keluargaku pun meninggalkanku. Tapi kau tetap setia, memberi kehangatan dengan aroma tanah yang indah.

Aku pun tak pernah tahu, bagaimana cara menyatakan cintaku yang tak seberapa jika dibandingkan dengan seluruh pengorbanan dan cintamu padaku. Cinta yang selalu saja kupendam. Tak pernah sekalipun kuungkapkan kepadamu. Kau, membuatku terharu. Karena aku, tak pernah mampu mengungkapkan rasa cintaku itu. Baik ucap atau berbuat. Aku, terlampau lemah melakukan semua itu.

Tapi, bukan berarti aku menyerah. Bukan berarti aku berdiam diri dan duduk manis meratapi semua itu. Aku, akan terus berusaha memperjuangkan semua itu. Memberimu bukti cinta terbaik yang bisa kuberikan. Memberimu seluruh jiwa ragaku. Bahkan jika perlu, ku kan menuliskannya dalam ukiran-ukiran paragraf, agar semua orang tahu, bahwa aku…mencintaimu.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s