RUNTUHNYA SORBAN KIAI

Posted: November 22, 2012 in Agama

Kiai identik dengan seorang yang memiliki sebuah lembaga pendidikan yang berbasic agama, atau lebih dikenal dengan istilah pondok pesantren. Kiai diagungkan dan dimulyakan oleh para santri, karena kealiman dan kesalehannya dalam membangun moralitas umat. Selain juga sebagai sosok guru, kiai juga berperan sebagi bapak spiritual santri.

Di tanah jawa ini kita melihat banyaknya “umbul-umbul” pondok pesantren yang dimiliki oleh sang kiai. Pesantren juga memiliki peran yang sangat besar dalam pendidikan masyarakat yang islami. Corak pendidikannya pun bermacam-macam. Tak semua pondok pesantren memiliki metode dan manajemen yang sama. Ada yang bercorak pendidikan salaf (kuno)  ada pula yang bercorak modern dengan meninggalkan metode yang sudah dianggap kuno. Itu semua tergantung pada kebijakan kiai atas pondok pesantren yang ia pegang.

Begitupula santri yang datang dari berbagai daerah di penjuru nusantara. Mereka berbaur menjadi satu dalam komunitas yang satu. Di dalam pesantren akhlak mereka dibina, diberikan pengetahuan agama secara mendalam dan lain-lain. Dan juga pintar bersikap bagaimana seharusnya menghadapi seseorang yang dianggap mulia, seperti guru dan orangtua.

Santri sudah sepatutnya patuh dan tunduk kepada kiai, karena dilihat dari segi keilmuan dan kealiman jelas kiai lebih berada di atas santri. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan adanya kekeliruan dalam diri seorang kiai karena kiai juga manusia.

Orang-orang dan santri tempo dulu mensakralkan seorang yang disebut kiai, kiai bagaikan dewa yang selalu dianggap benar. Mereka selalu mengatakan “ya” terhadap apa yang diperintahkan kiai. Hal itu juga tak lepas dari perjuangan kiai dalam membina masyarakat. Kesengsaraan dan perjuangan yang dilalui kiai tempo dulu membuahkan hasil di masyarakat. Kiai selalu mementingkan umat dan santrinya, kiai tidak enak-enakan tidur di atas kasur, makan pun seadanya dan sering bisa dikatakan kurang dari kecukupan. Hal ini pula yang membangkitkan aura dan kharisma seorang kiai (tempo doeloe).

Berbeda dengan kiai sekarang (walaupun tidak semuanya) yang hanya memikirkan nafsu perutnya. Makan dengan makanan serba lebih, tidur di atas kasur springbed, dilengkapi fasilitas dan lain-lain. Tak sedikit pula yang berkecimpung di dalam dunia politik, hanya demi menumpuk kekayaan dan mengibarkan genderang popularitas.

Dampaknya, tiada lagi kekeramatan dalam diri seorang kiai, dan kiai pun  semakin dijauhi oleh masyarakat. Santri, lama-kelamaan dan lambat laun akan berkurang rasa hormatnya kepada seorang kiai. Tak salah kalau sekarang ada yang mengatakan kalau kiai sekarang sorbannya telah jatuh. Sorban dikenal sebagai sesuatu yang memiliki nilai lebih atau kemulyaan tersendiri dibanding yang lain. Tapi bila sorban kiai sudah jatuh, maka sudah tidak ada lagi kemuliaan dari seorang kiai yang hanya mementingkan perut dan popularitas serta kekuasaan. Walaupun dengan tanpa menafikan masih eksisnya beberapa kiai yang masih memiliki kekeramatan dan kemuliaan di mata masyarakat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s