Hari Ke-4 Program Kepemimpinan LPDP 6: Menjinakkan Gunung Salak

Posted: November 4, 2013 in Kepemimpinan, Lingkungan, LPDP, Motivasi, Short Story
Tag:, , ,

The Next LeaderHari sebelumnya (4 Oktober 2013), kami tidur agak larut. Karena agenda api unggun tidak bisa ditinggalkan dan setiap kelompok harus menampilkan performance-nya masing-masing. Terserah, apakah menyanyi, menampilkan drama, berpuisi, menari, atau apapun itu asalkan berlatarkan kebudayaan Indonesia.

Acara api unggun ini dilaksanakan di pelataran di dekat lokasi berkemah yang berada sekian ratus meter di atas permukaan laut. Mungkin saya tidak bercerita banyak untuk acara api unggun ini, sebab kiranya foto-foto akan lebih menarik untuk bercerita:

Api unggun

***

Pagi, 05.30 WIB (05 Oktober 2013)

Sarapan sudah tersedia. Kami, para peserta diarahkan untuk segera menyantap sarapan agar pendakian bisa dimulai sepagi mungkin. Sebab, perjalanan pendakian akan memakan waktu kurang lebih 6 jam, itu sudah termasuk durasi perjalanan naik dan turun. Maka dari itu, sarapan harus disegerakan karena kami juga harus menyiapkan perbekalan selama melakukan pendakian.

Selesai sarapan, kami langsung menuju tanah lapang luas di samping tempat perkemahan karena  ada beberapa pengarahan yang akan disampaikan oleh panitia dan guide.

Pengarahan

Sebagaimana yang diinstruksikan panitia, kami disarankan untuk memakai sepatu, bukan sandal gunung (walaupun sandal gunung juga tak masalah), sebab lintasan yang akan dilalui oleh kami lumayan sulit karena sempit dan berbatu. Sebagian struktur tanahnya juga bukan tanah padat yang ketika terkena siraman hujan, akan berubah menjadi kubangan lumpur yang licin.

Dan pemanasan pun dimulai. Pemanasan ini dimaksudkan agar fisik kami bisa lebih rileks dan lebih siap untuk melakukan pendakian.

Guideguide pendakian yang dipimpin oleh mas Aji, memberi pengarahan bahwa, “Yang dibutuhkan untuk mendaki gunung bukan hanya sekedar fisik, tapi juga mental. Sebab, mental akan sangat berpengaruh bagi orang yang sedang melakukan pendakian gunung.” Kami pun mengiyakan dengan mantap.

Selesai pemanasan, kami berdoa bersama agar perjalanan pendakian hingga kami kembali tidak ada halangan, kalaupun ada mudah-mudahan tidak ada halangan yang berarti. Amin.

Barisan diatur sedemikian rupa. Setiap kelompok barisan perempuan, diapit oleh 2 kelompok barisan laki-laki agar bisa saling menjaga. Dan nanti, ketika sedang melakukan pendakian, kami diinstruksikan untuk tidak membuat jarak yang terlalu jauh antar personil. Setiap kali ada personil atau anggota yang terkena problem di perjalanan, maka personil yang lain harus berhenti untuk menunggu.

Jalan Setapak

Perjalanan yang kami lalui lumayan berkelok dan curam. Beberapa kali kami harus menyebrangi sungai dan merunduk karena ada beberapa batang pohon yang melintang.

Setelah mendaki lebih dari dua jam, akhirnya kami sampai pada titik lokasi checkpoint yang pertama. Sebenarnya ada dua checkpoint yang akan kami lintasi. Checkpoint ini adalah tempat untuk beristirahat sejenak, minum, dan makan perbekalan. Kurang lebih hanya 5-10 menit beristirahat. Tidak boleh terlalu lama, karena perjalanan masih panjang.

Checkpoint

Di lokasi checkpoint kedua, kami beristirahat agak lama. Di sini kami minum air perbekalan dari bawah dan memakan snack seadanya. Di checkpoint ini mas Aji sebagai guide menginstruksikan untuk mengisi perbekalan air kami dari air sungai yang ada di sebelah kami, karena air sungai itu masih murni dan tidak berbau belerang. Kami pun mengisi air secukupnya, dan melanjutkan pendakian.

Berebut Slayer demi Untaian Visi

Sebelum mencapai kawah ratu, kami harus melewati Kawah Mati 1 dan Kawah Mati 2, yang merupakan kawah-kawah aktif yang berada di gunung Salak ini.

Kawah Mati

Kawah mati lagi

Akhirnya… finish juga. Sampailah kami di tempat tujuan: Kawah Ratu.

Kawah Ratu merupakan salah satu kawah di gunung Salak yang masih aktif dan dalam kondisi normal. Di sana kami pun mencari tempat untuk bernaung dan bersantai, karena ini adalah jadwal untuk makan siang.

Kumpul & berteduh

Makan… dimulai! 😀

Makan siang

Makan

Selesai makan, kami langsung diarahkan untuk berkumpul oleh panitia. Di sini panitia hendak memberi sedikit games kepada kami: kami (para peserta) disuruh untuk berlomba mengambil slayer yang telah tertancap dan disangkutkan di sekitar kawasan kawah ratu. Ada di pohon, di bebatuan, tebing dan lain sebagainya. Para peserta tidak perlu khawatir tidak kebagian, karena jumlah slayer yang disangkutkan oleh panitia itu jumlahnya pas sejumlah banyaknya peserta.

1… 2… 3, go! Kami pun berlari berhamburan: mendaki, memanjat, dan bergelut dengan tebing-tebing kawah untuk menggapai slayer kami masing-masing. Seru! 😀

Slayer

Di slayer itu kami diwajibkan untuk menulis visi kami di masa mendatang disertai dengan komitmen yang akan kami lakukan untuk mewujudkan visi kami itu. Terserah, apapun bidang keilmuan, passion, skill, maupun minat kami. Yang jelas, visi itu harus merupakan visi yang bermanfaat bagi orang banyak. Visi yang nyata. Bukan visi yang sekedar mimpi.

Setelah visi dan komitmen selesai, kami langsung berkumpul kembali untuk meneguhkan tekad bersama sebagai calon pemimpin bangsa di masa yang akan datang. Lalu kami pun dengan segenap hati menyanyikan lagu “Padamu Negeri”. Khidmat, haru, dan merinding menghayati lagu.

Padamu Negeri

Kembali ke Perkemahan

Selesai menyanyikan lagu, kami langsung digiring untuk beranjak pulang. Melintasi jalan setapak yang kami lalui tadi.

Pulang

Di pertengahan jalan, cobaan datang. Beberapa teman terjatuh, ada yang terkilir, terpeleset, dengkulnya bengkak, sepatu jebol dan yang lainnya. Begh… ini rintangan yang harus kami lalui.

Sepatu Jebol

Dan… oh my God, hujan datang!

Semua peserta langsung menggunakan ponco atau jas hujan masing-masing. Untungnya, panitia mewajibkan kami membawa jas hujan sewaktu pendakian karena di Bogor (termasuk area gunung Salak) setiap hari hampir bisa dipastikan turun hujan.

Jalan terjal yang ada di depan mata semakin menjadi terjal karena hujan. Tanah padat dan berlumpur berubah menjadi kubangan-kubangan yang (tentu) membahayakan. Tekstur tanah menjadi licin, dan sungai-sungai yang kami sebrangi bertambah deras. Tak ayal, beberapa kali saya dan teman-teman yang lain terpeleset dan terjatuh. Jika tidak hati-hati bisa terperosok. Maka, kami pun berjalan turun perlahan dengan tetap waspada untuk meminimalisir agar tidak terjatuh.

Seru… dan menegangkan! 😀

Tapi alhamdulillah, secara keseluruhan semua turun dengan selamat walau ada beberapa teman yang cedera. Fiyuuuh… mantap sekali.

Baju basah karena hujan, mari membuat jemuran.

Bikin Jemuran

Pendakian yang berkesan, melelahkan, dan menyenangkan! (*)

Iklan
Komentar
  1. link berkata:

    trus,setelah itu langsung bubar pulang ke tempat masing2 atau bagaimana lagi?koq ngga ada kelanjutannya…penasaran.com

  2. aeymanusia berkata:

    Ya Mbak…terima kasih sudah menyimak…
    mohon maaf, nanti pasti dilanjutkan karena untuk sekarang masih ngatur waktu buat nulis postingan…hehe 🙂

  3. tajuddin berkata:

    iya nich mas,jadi terhanyut sama ceritanya,ditunggu lanjutannya secepatnya yah,semanggat!

  4. dery berkata:

    ngikutin cie link baca jadi ikutan penasaran lanjutannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s