Hari Ke-7 Program Kepemimpinan LPDP 6: Wawasan Global & Paradigma SDM Kompetitif

Posted: April 8, 2014 in Kepemimpinan, LPDP, Motivasi, Short Story, Teknologi
Tag:, , , ,

IMG_3936Materi pertama di hari ini (08 Oktober 2013) adalah materi yang bertemakan sebagaimana judul postingan di atas, yang disampaikan oleh Bapak Dr. Warsito. Seorang nasionalis, ilmuwan, dan peneliti yang fenomenal. Beliau menggebrak dunia teknologi dunia dengan temuan-temuan hebatnya. Mungkin sebagian kalangan belum mengenalnya, tapi sebagian lain sudah takjub dengan berbagai inovasinya. Pernah sekali beliau tampil di acara Hitam Putih di TRANS7 yang dipandu oleh mentalis Deddy Corbuzier pada 24 September 2013. Dari acara itu, beliau mulai dikenal oleh khalayak dan temuan-temuannya menggegerkan dunia kesehatan yang, oleh sebagian kalangan dianggap ‘mengancam’ profesi-profesi dokter bedah secara umum. Tapi beliau tidak gentar, riset-riset

terus dilakukannya demi kemajuan teknologi kesehatan Indonesia dan memberikan kemanfaatan bagi masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau.

Untuk itu kiranya saya perlu untuk share kepada para pembaca sekalian agar tahu dan mengenal siapa itu Dr. Warsito P Taruno yang fenomenal itu. Agar kita juga bisa dapat belajar dari sejarah beliau yang ‘berdarah-darah’. Sejarah jatuh bangun yang sama sekali tidak mudah. Oleh karenanya,  saya mengutip deskripsi yang cukup panjang dari Wikipedia (yang saya akses pada 7 April 2014), dengan beberapa sedikit editing. Bukan kenapa-kenapa, saya merasa apa yang ada di Wikipedia itu sudah cukup gamblang menjelaskan tentang siapa itu Dr. Warsito yang sebenarnya. Dan menurut hemat saya, apa yang ada di Wikipedia itu tidak jauh berbeda dengan yang beliau sampaikan kepada kami sewaktu di Gumati. So, mari menyimak! 😀

Dr. Warsito Purwo Taruno (lahir di Karanganyar15 Mei 1967) adalah ilmuwan Indonesia. Sama seperti anak desa pada umumnya, Warsito menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan bermain di sawah dan memelihara ternak. Meski demikian, anak keenam dari delapan bersaudara ini termasuk siswa yang cemerlang. Dia gemar membaca buku apa saja tanpa mengenal waktu dan tempat. Kecerdasan Warsito juga tidak bisa dilepaskan dari peranan kedua orang tuanya. Sang ayah selalu mendorongnya untuk selalu maju. Sedangkan ibunya selalu memotivasi agar melakukan segala sesuatu pekerjaan dengan dasar ketulusan dan ketabahan.

Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Karanganyar, Solo pada tahun 1986, Warsito muda melanjutkan sekolah ke Jurusan Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada(UGM). Namun pada semester pertama karena mendapatkan beasiswa, Ia melanjutkan studi Teknik Kimia di Jepang. Studi S-1, ia tempuh di Tokyo International Japanese School, Tokyo, tamat tahun1988. Kemudian ia melanjutkan studi ke jenjang S-2 di Shizouka University jurusan Chemical Engineering, lulus tahun 1992. Masih di universitas yang sama, Warsito kemudian meraih gelar M.Eng tahun 1994 dan gelar Ph.D Electronic Science and Technology tahun 1997. Di universitas tersebut, Warsito pernah menjadi staf peneliti dan asisten dosen selama 2 tahun. Saat menyelesaikan tugas akhir mahasiswa S-1 di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia, Universitas Shizuoka, Jepang, tahun 1991, Dr. Warsito mulai tertarik dengan sebuah riset tentang teknologi yang dapat ‘menembus pandang’ sebuah objek (sekarang disebut tomografi). Ketika itu, peraih Achmad Bakrie Award 2009 ini ingin membuat teknologi yang mampu “melihat” di balik dinding reaktor yang terbuat dari baja atau obyek yang opaque (tak tembus cahaya). Dia lantas melakukan riset di Laboratorium of Molecular Transport di bawah bimbingan Profesor Shigeo Uchida.

Setelah menyelesaikan pendidikan S-3, Dr. Warsito menghadiri sebuah konferensi di Belanda dan bertemu dengan seorang profesor dari Amerika Serikat yang kemudian mengajaknya melakukan riset di Amerika Serikat. Pada tahun 1999, dia hijrah ke Amerika Serikat dan bertemu dengan Professor Liang-Shih Fan dari Ohio State University (OSU). Keduanya bekerja sama di laboratorium Industrial Research Consortium milik OSU dan mengembangkan riset tomografi volumetrik. Di tengah kesibukan melakukan riset bersama 15 ilmuwan lain di OSU, Dr. Warsito meluangkan waktu menulis di sejumlah jurnal ilmiah bertaraf internasional. Tak jarang, ia juga dipercaya menjadi pembicara utama dalam sejumlah forum ilmuwan dunia. Sepanjang tahun 20032006 itu, ia mencurahkan waktu dan tenaga melakukan riset di Amerika Serikat dan sesekali pulang ke Indonesia.

Pendidikan

1) Teknik Kimia Fakultas Teknik UGM Yogyakarta (1986).

2) S1 Tokyo International Japanese School Tokyo (1988).

3) S2 Teknik Kimia di Shizouka University Jepang (1992).

4) S3 Ph.D Teknik Elektro di Shizouka University Jepang (1997).

IMG_3978

Penemuan ECVT

Dr. Warsito kemudian mengembangkan Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs) Edwar Technology, yakni pusat riset dan produksi sistem tomografi 4D yang pertama di dunia, di sebuah ruko dua lantai yang berpusat di Tangerang, Banten. Lantai pertama ruko itu dijadikan warnet dan lantai kedua adalah laboratorium. Di ruko inilah, Dr. Warsito bersama kawan-kawannya ingin mewujudkan cita-cita membangun institusi riset yang tidak kalah dengan institusi riset mana pun di dunia. Dari tempat itu pulalah, lahir teknologi Electrical Capacitance Volume Tomography (ECVT). Langkah Dr. Warsito sebagai peneliti sempat goyah karena hasil risetnya hilang tak berbekas. Komputer kerjanya hangus terbakar tersambar petir dan laptopnya pun tiba-tiba jebol. Riset bertahun-tahun untuk menciptakan alat pemindai empat dimensi (4D) berbasis teknologi ECVT, hilang begitu saja. Hal itu membuat Dr. Warsito menjadi stres dan bingung. Tetapi Dr. Warsito tidak mau terpuruk terlalu lama. Ia membongkar arsip dan catatan risetnya mulai dari awal. Untuk mewujudkan impiannya kembali, ia membentuk satu tim ahli dari CTECH Labs.

Kerja keras Dr. Warsito akhirnya menuai hasil. Pada tahun 2004, risetnya selesai tapi masih dalam bentuk prototype. Meski begitu, temuannya segera menjadi incaran sejumlah perusahaan minyak terkemuka di Amerika Serikat dan lembaga antariksa NASA. Sebab, teknologi temuan Dr. Warsito mengungguli kemampuan CT Scan dan MRI. Teknologi pemindai 4D pertama di dunia itu kemudian dipatenkan Dr. Warsito di Amerika Serikat pada lembaga paten internasional PTO/WO bernomor 60/664,026 tahun 2005 dan 60/760,529 tahun 2006. Teknologi ECVT ciptaan Dr. Warsito itu kemudian menjadi berita utama di mana-mana. Diantaranya, berita yang dirilis oleh Ohio State Research News pada 27 Maret 2006 dan kemudian dikutip oleh Science Daily (Amerika Serikat), Scenta (Inggris), Chemical Online, Electronics Weekly dan hampir seluruh media pemberitaan IPTEK di segala bidang dari energikedokteranfisikabiologikimia, industri, elektronika hingga nano-teknologi dan antariksa di seluruh dunia.

Pada dasarnya, ECVT atau Electrical Capacitance Volume Tomography mirip dengan USG/CT Scan dan MRI yang banyak digunakan di dunia medis. Namun tak seperti CT Scan dan MRI yang hanya digunakan untuk melihat apa yang terjadi di dalam tubuh manusia, ECVT jauh lebih canggih karena pasien tak perlu masuk ke dalam tabung seperti alat MRI yang cuma menampilkan gambar dua dimensi. Sistem ECVT ini terdiri dari sistem sensor, sistem data akuisisi dan perangkat komputer untuk kontrol, rekonstruksi data dan display. Dengan teknologi ini, pemindaian bisa dilakukan dari luar tanpa menyentuh obyek, bahkan obyek skala nano dan obyek yang bergerak dengan kecepatan tinggi pun bisa terlihat.

Dalam pengembangannya, teknologi ECVT sudah diakui bahkan dipakai lembaga antariksa Amerika (NASA), Exxon Mobil, BP Oil, Shell (perusahaan)ConocoPhillips, Dow Chemical, Mistubishi Kimia, termasuk Departemen Energi AS (Morgantown National Laboratory). Sedangkan di Indonesia sendiri, teknologi ini digunakan untuk pemindaian tabung gas bertekanan tinggi, seperti kendaraan berbahan bakar gas Bus Transjakarta.

Hingga saat ini, CTECH Labs Edwar Technology masih terus mengembangkan teknologi tomografi volumetrik untuk berbagai aplikasi. Meskipun masih berskala kecil, institusi yang dibangunnya mempunyai reputasi tinggi di dunia dan telah mampu menjalin kerja sama riset dengan lembaga riset dan universitas kelas dunia seperti Ohio State University (Amerika Serikat), National Natural Science Laboratory of Japan (RIKEN, Japan), Universitas Teknologi Nanyang (Singapore) dan Universiti Kebangsaan Malaysia(Malaysia)

Penemuan Alat Pembasmi Kanker

Alat terbaru yang sedang dikembangkan Dr. Warsito dan timnya adalah alat pembasmi kanker otak dan kanker payudara. Alat yang berbasis teknologi ECVT itu terdiri dari empat perangkat yakni brain activity scanner, breast activity scanner, brain cancer electro capacitive therapy, dan breast cancer electro capacitive therapy. Brain activity scanner dibuat Dr. Warsito sejak Juni 2010. Alat tersebut berfungsi mempelajari aktivitas otak manusia secara tiga dimensi. Bentuk alat tersebut mirip helm dengan puluhan lubang konektor yang dihubungkan dengan sebuah stasiun data akuisisi yang tersambung dengan sebuah komputer. Alat itu bisa mendeteksi ada tidaknya sel kanker di otak. Dengan alat itu, dokter juga bisa melihat seberapa parah kanker otak yang diderita pasien. Sementara itu, breast activity scanner diciptakan pada September 2011 juga berfungsi mendeteksi adanya sel kanker di tubuh.

Selain dua alat tersebut, Dr. Warsito melengkapinya dengan membuat brain cancer electro capacitive therapy dan breast cancer electro capacitive therapy. Dua alat berbasis gelombang listrik statis dengan tenaga baterai itu terbukti dapat membunuh sel kanker hingga tuntas hanya dalam waktu dua bulan. Setelah menggunakan alat ini, tubuh pasien akan bereaksi dengan mengeluarkan keringat. Dr. Warsito telah membuktikan keampuhan alat ciptaannya kepada kakak perempuannya yang menderita kanker payudara stadium IV. Dalam waktu beberapa bulan setelah pemakaian, hasil tes laboratorium menyatakan bahwa sang kakak dinyatakan bersih dari sel kanker yang hampir merenggut nyawa itu.

Untuk brain cancer electro capacitive therapy, Dr. Warsito mencoba mengenakannya kepada seorang pemuda berusia 21 tahun yang menderita penyakit kanker otak kecil (cerebellum). Kondisi pemuda itu sudah parah, lumpuh total dan tidak bisa menelan makanan atau minuman. Dalam terapi ini, Dr. Warsito bekerja sama dengan tim dokter ahli radiologi dan onkologi dari sebuah rumah sakit besar di Jakarta. Setelah seminggu pemakaian alat tersebut, pemuda itu sudah bisa bangun dari tempat tidur serta menggerakkan tangan dan kaki. Setelah dua bulan pemakaian, pemuda tersebut sudah dinyatakan sembuh total.

Meski sudah mendapatkan hasil yang luar biasa, Dr. Warsito mengakui bahwa alat yang sudah dipakai oleh pasien di IndonesiaIndiaMalaysiaSingapuraAmerika SerikatEropaChina, dan Taiwan itu, masih dalam taraf penelitian yang perlu dielaborasi lebih jauh.

Penghargaan

Berkat kerja keras dan peranannya dalam mengharumkan dunia sains Indonesia di mata internasional, Dr. Warsito sudah dianugerahi sejumlah penghargaan. Ayah empat putra ini pernah menerima Achmad Bakrie Award 2009 ; terpilih menjadi salah satu dari “100 Tokoh Kebangkitan Indonesia” versi Majalah Gatra tahun 2008 ; “10 Tokoh yang Mengubah Indonesia” versi majalah Tempo tahun 2006 ; anugerah dari American Institute of Chemist Foundation Outstanding Post-doctoral Award tahun 2002. Ia juga menjadi lulusan terbaik bidang kimia di Universitas Shizouka. Bahkan di awal kariernya pada 1985, Dr. Warsito sempat meraih Baiquni Award bidang sains dan matematika dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Dr. Warsito juga termasuk dalam 16 ilmuwan Indonesia yang diberi kesempatan unjuk gigi di depan Douglas D. Osheroff, peraih Nobel Fisika 1996 yang berkunjung ke Indonesia.

Demi memajukan dunia penelitian di Indonesia, Dr. Warsito ikut mendirikan organisasi bernama Masyarakat Ilmuwan dan Teknologi Indonesia (MITI). Sejak tahun 2005, Dr. Warsito yang didaulat menjadi Ketua Umum MITI, telah membangun jaringan MITI di seluruh Indonesia dan luar negeri terutama MITI-Mahasiswa di lebih dari 50 kampus di 26 provinsi di seluruh Indonesia. Program utama yang dilancarkan MITI adalah meningkatkan kualitas akademis dan kemampuan riset mahasiswa Indonesia dan pengembangan SDM mahasiswa Indonesia.*

*Dilansir dari http://id.wikipedia.org/wiki/Warsito_Taruno

Apa yang Bapak Warsito ceritakan tentang jatuh bangunnya beliau keteika riset dan meneliti, tidak jauh berbeda dengan apa yang saya kutip dari Wikipedia di atas. Beliau juga mengisahkan, ketika beliau diajak bekerjasama di Amerika, beliau diminta dan dirayu oleh pihak Amerika untuk meresmikan hak patennya di sana, dan beliau diiming-imingi dengan kehidupan yang serba mewah dan terjamin jika mau mematenkan produknya di Amerika. Akan tetapi beliau menolak, dengan tegas beliau mengatakan, “Apapun yang terjadi, saya tetap ingin mematenkan hasil riset saya ini di negara saya sendiri, di Indonesia, negeri yang saya cintai.”

IMG_3927

Sesampainya di indonesia, beliau bingung untuk melakukan riset di mana. Akhirnya beliau memutuskan untuk menyewa ruko. Ketika beliau hendak menyewanya, beliau bingung mencari modal. Dengan modal nekat, beliau memantapkan hati untuk menjual mobilnya agar bisa menyewa ruko. Tidak sampai di situ, isterinya juga turut berkorban dengan menjual beberapa barang berharganya sebagai modal riset di ruko yang tidak besar itu. Dan ini, bukan cobaan yang mudah karena di sisi yang lain beliau juga harus terus membiayai anak-anaknya. Tapi dengan kepercayaan yang kuat, beliau berhasil membayar lunas jerih payah perjuangannya dengan keberhasilan timnya menemukan penemuan yang menghebohkan dunia.

Dan sebagai pelengkap, saya ingin sedikit berbagi beberapa gambar yang Bapak Warsito share sewaktu memberikan materi melalui slide PowerPoint.

Diantaranya adalah, 4D Breast cancer scanner pertama di dunia:

4D Breast cancer scanner

Visual 3D tumor lunak salah satu pasien (Ibu Diana):

Visual 3D tumor lunak

Visualisasi hasil pemakaian ECCT setelah dua bulan (sel tumor hilang):

Visualisasi hasil pemakaian ECCT setelah dua bulan

Kerangka rumus dan gelombang rompi penghancur sel tumor:

kerangka rompi

Contoh rompi (dikenakan wanita paling kanan):

Contoh rompi

Tips Meraih Bintang

Setelah panjang lebar menceritakan perjalanan panjangnya, Bapak Warsito memberikan pesan-pesan kepada kami bahwa, ada dua nilai yang harus dijunjung tinggi ketika kita hendak berkarya, yakni passion (keinginan besar) dan responsibility (bertanggungjawab). Dengan adanay passion, “Setinggi apapun gunung, masih bisa didaki” ujar beliau.

“Satu hal yang pantang dilakukan adalah berhenti di tengah jalan,” lanjutnya. Ya, ini beliau lakukan sendiri ketika komputernya tersambar listrik, juga ketika finansial menipis untuk menyewa ruko. Dengan segenap usaha, beliau pantang untuk menyerah. Mobil dan barang berharga dijual pun tak jadi masalah, asalkan tetap bertanggungjawab (responsibility). Beliau berpesan, “Beasiswa jangan jadi beban, tapi temukan passion dalam hidup (terutama ketika studi).” Karena ketika kita menganggapnya sebagai beban, maka selama studi kita akan selalu terbayang akan beban itu. Kita tidak akan pernah lepas dari perasaan yang memberatkan. Oleh karena itu, lepas beban itu. Tetap semangat dan milikilah passion dalam hidup. Agar passion itu mendorong kita untuk terus dan terus berkarya.

Salah satu prinsip hidup orang Jepang adalah Kiwameru, menurut Dr. Warsito artinya adalah, “Jangan hiraukan orang, jangan takut mencoba, dan jangan setengah-setengah. Inilah tips untuk menggapai bintang!” kami pun riuh bertepuk tangan.

IMG_3937

Terakhir beliau berpesan, “Sekompleks apapun problem dalam hidup, tetaplah berani untuk melangkah. Evaluasi, koreksi, dan perbaiki. Pantang untuk mundur!” Sebuah closing statement yang menggugah dan menantang kami. Karena pada akhirnya, kami harus mampu menjadi seperti beliau, bukan tidak mungkin jika diantara kami ada yang sanggup melebihi. Because we believe that impossible is nothing! (*)

 

“Bermimpilah setinggi langit… jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” Ir. Soekarno.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s