Hari ke-8 Program Kepemimpinan LPDP 6: Man Jadda Wajada

Posted: Februari 17, 2015 in LPDP, Motivasi, Pendidikan
Tag:, , , ,

IMG_4342Sesi ini merupakan sesi yang (bisa dibilang) lebih ‘ringan’ daripada sesi sebelumnya. Kenapa? Karena di sesi ini, kita kedatangan tamu istimewa yang hendak berbagi (to share) pengalaman hidup beserta perjalanan panjangnya selama studi, baik di dalam maupun di luar negeri. Dia merupakan salah satu penulis novel bestseller tanah air, yang telah melalang buana ke berbagai negara, bukan karena dia anak orang kaya, melainkan karena prestasi dan dana beasiswa. Pengalaman hidupnya telah membuktikan bahwa: barangsiapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berhasil. Man jadda, wajada.

Dia adalah: Ahmad Fuadi, penulis trilogi novel Negeri 5 Menara.

Ahmad Fuadi, lahir di Bayur Maninjau, Sumatera Barat. Sejak kecil telah belajar mengaji dan ilmu agama. Sehingga kemudian ibunya menyuruhnya untuk melanjutkan belajar agama di tanah Jawa, tepatnya di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo. Pada awalnya ia setengah hati menuruti permintaan ibunya, namun dia bersyukur telah menuruti kemauan ibunya karena di pesantren lah dia banyak memperoleh pelajaran berharga.

Selama di pesantren, ia belajar berbagai disiplin ilmu bersama teman-teman dari berbagai daerah dan negara, yang kemudian membuatnya merasa sedang berada dalam lingkungan dan suasana global. Di pesantren pula, dia diajarkan untuk menulis. Menurutnya, menulis dapat membuat manusia menjadi ‘awet muda’. Mengapa demikian? Begini, manusia hidup hanya sementara, dan ketika tiba saatnya manusia meninggalkan dunia yang fana ini, maka salah satu hal berharga yang dapat diturunkan kepada keturunan atau generasi berikutnya adalah tulisan. Melalui tulisan kita dapat diingat kembali. Tulisan dapat dibaca oleh orang banyak dan dilestarikan ke beberapa generasi. Oleh karena itu, Ahmad Fuadi mengingatkan kita pentingnya menulis, apapun bentuknya, baik berupa novel, cerpen, puisi dan lain-lain.

page

Di Gontor, ia mendapatkan banyak pesan dan nasihat dari para ustadz. Salah satu nasihat yang kemudian ia teguhkan menjadi prinsip adalah: “Orang yang paling baik di antaramu adalah orang yang paling banyak manfaat bagi sesama”. Dan di Gontor inilah Ahmad Fuadi untuk pertama kalinya memiliki cita-cita untuk pergi ke luar negeri. Cita-cita tersebut muncul dikarenakan para santri di sana dibiasakan untuk mendengarkan siaran radio yang berbahasa Inggris dan berbahasa Arab.

Setelah lulus dari Pondok Pesantren Gontor, Ahmad Fuadi melanjutkan studi jurusan Hubungan International (HI) di Universitas Padjajaran, Bandung. Ketika berkuliah di Universitas Padjajaran inilah, Ahmad Fuadi ingin merealisasikan cita-citanya untuk pergi ke luar negeri tanpa harus menunggu lulus S1. Akhirnya ia pun mendapat kesempatan mengikuti program ASEAN student gathering yang merupakan program berdurasi 1 semester di mana mahasiswa-mahasiswa dari negara ASEAN bisa menjalani perkuliahan bersama di National University of Singapore.

page2

Setelah menyelesaikan S1 Hubungan International di Universitas Padjajaran, Ahmad Fuadi bekerja sebagai wartawan majalah Tempo. Kerja kerasnya untuk memperoleh skor TOEFL yang tinggi disela-sela kesibukannya sebagai seorang wartawan membuahkan hasil dengan terpilihnya Fuadi sebagai penerima beasiswa Fulbright ke George Washington University, Amerika Serikat jurusan Media and Public Affairs tahun 1999-2002. Sembari kuliah, Ahmad Fuadi juga bekerja parttime sebagai wartawan Voice of America (VoA). Pada tahun 2004, Ahmad Fuadi mendapatkan Beasiswa Chevening Award, untuk melanjutkan studi di University of London. Ah, keren sekali …

Dalam kesempatannya menempuh pendidikan di luar negeri, Fuadi memanfaatkan kesempatan itu untuk mengunjungi berbagai negara untuk mengenal berbagai macam budaya. Ia berpesan: ketika (kita) berada di luar negeri, gunakanlah kesempatan itu untuk berkeliling ke berbagai negara agar kita mempelajari ilmu-ilmu bermanfaat dan nilai-nilai baik. Menurutnya, memahami posisi kita di negara orang (terutama sebagai minoritas) sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang karakter dan kepribadian kita. Karena menempuh pendidikan di luar negeri akan mendapatkan banyak hambatan, seperti hambatan budaya, bahasa, hubungan dengan keluarga di Indonesia dan masih banyak lagi. Namun apabila kita yakin dan bersungguh-sungguh, semua itu hambatan dapat dilalui. Sampai sekarang berkat kegigihannya, Ahmad Fuadi telah mendapat 9 beasiswa untuk belajar di luar negeri.

page3

Ada masa di mana Ahmad Fuadi merasa cita-citanya telah tercapai, ia sudah berhasil pergi ke luar negeri dan meraih gelar S2, akan tetapi ia merasa gundah memikirkan “what next?” Ia pun teringat dengan pesan ustadz-ustadznya dulu sewaktu di pesantren bahwa, “orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi sesama.” Mengingat prinsip tersebut, sekembalinya di tanah air Ahmad Fuadi kemudian memutuskan keinginannya untuk berbagi pengalaman-pengalamannya selama di luar negeri yang dituangkan dalam karya-karya sastranya, yaitu trilogi novel Negeri 5 Menara (Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna dan Rantau 1 Muara). Sebagai catatan, novel Negeri 5 Menara telah diangkat ke layar lebar tahun 2011 dan novel tersebut mendapat beberapa penghargaan: Nominasi Khatulistiwa Award 2010; Penulis dan Buku Fiksi Terfavorit 2010 versi Anugerah Pembaca Indonesia. Ahmad Fuadi sendiri dianugerahi Liputan 6 Award SCTV untuk kategori motivasi dan pendidikan; Penulis terbaik IKAPI; Juara 1 Karya Fiksi Terbaik Perpusnas; terpilih sebagai resident di Bellagio Center, Italia 2012, dan; Penghargaan dari DJKHI Kemenkumham untuk kategori Karya Cipta Novel 2013.

Namun itu semua tidaklah cukup, ia merasa harus tetap melakukan sesuatu untuk negeri tercinta, Indonesia. Ia memutuskan bahwa hasil penjualan dari trilogi novel tersebut disalurkan pada yayasan sosial yang ia dirikan, Yayasan Komunitas Menara. Yayasan sosial ini memberikan pendidikan gratis pada anak-anak usia dini yang kurang mampu. Dan yayasan ini memiliki visi untuk mendirikan 1000 PAUD KM gratis di seluruh penjuru nusantara.

IMG_4437

Bermimpilah setinggi-tingginya, kemudian jangan biarkan mimpi itu begitu saja, kita harus membela impian kita, bela habis-habisan. Jangan berhenti bermimpi karena yang di atas itu Maha Mendengar, dan siapa yang bersungguh-sungguh maka dia yang berhasil”, ujar Ahmad Fuadi.

page4

Ah, kami jadi iri dengan kegigihan dan ketekunan mas Fuadi. Sharing session ini jadi sangat menginspirasi. So, mari kita teguhkan tekad diri ini demi masa depan Ibu Pertiwi. Man jadda wajada. 🙂

*diolah dari berbagai sumber, terutama dari blog angkatan 6

Iklan
Komentar
  1. aishahprastowo berkata:

    Suka hari yg ini yg pake biru2… cakep2…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s