Buku bukan Tugu

Posted: April 9, 2015 in Buku, Pendidikan
Tag:, ,

Buku mengisi jam-jam kita yang kosong dengan percakapan yang mungkin tak akan pernah selesai, tapi membuat kita tahu: kita hanyalah penafsir tanda-tanda, di mana kebenaran menerakan jejaknya. Itu sebabnya kata pertama yang menakjubkan adalah: “BACALAH”. Goenawan Mohamad

Siapa tak mengenal Yogyakarta? Dari Sabang sampai Merauke tidak ada manusia Indonesia yang menafikan eksistensi sebuah kota istimewa yang bernama Yogya (baca; Jogja). Orang mengenal Yogya sebagai Kota Pendidikan, dan itu benar. Ada banyak kampus yang berjejalan dan berderet di Kota Gudeg ini, mulai dari yang negeri sampai swasta, dari bermutu tinggi hingga yang biasa saja. Belum lagi sebutan ‘miniaturnya Indonesia’ yang disematkan pada kota ini, Yogyakarta menjadi kota yang dianugerahi keistimewaan oleh Tuhan. Yogyakarta menjadi kota yang mampu menampung segala jenis etnis suku dan budaya. Yogya bisa menerima siapa saja bagi yang ingin sekedar berkunjung atau tinggal lebih lama. Yogyakarta adalah cerminan dari Indonesia yang ramah, toleran dan bersahaja. Maka tak heran, jika banyak wisatawan dari luar kota penasaran terhadap kota yang istimewa ini, mereka ingin merasakan atmosfir Malioboro yang legendaris itu, juga berfoto di Tugu yang menjulang gagah berani di tengah kota. Belum lagi Keraton Sultan Hamengkubuwono yang menunjukkan bahwa di Yogyakarta tempo dulu, berdiri tegap sebuah kerajaan yang menjadi saksi sejarah jatuh bangunnya bangsa ini hingga sekarang bisa berdiri di kaki sendiri.

Kota Pendidikan berarti kotanya para pelajar. Konsekuensi logis dari hal ini adalah kemudahan akses buku yang tak terperikan. Buku-buku yang berderet tak karuan melimpah; mulai dari yang asli maupun hasil kopi(an), membuat bisnis literasi menjadi salah satu kekuatan penting di kota ini. Kondisi demikian merupakan kesempatan dan lahan potensial bagi pemodal untuk membangun sebuah usaha percetakan dan penerbitan. Karena buku menjadi salah satu ‘kebutuhan primer’ yang senantiasa dibeli, dibeli, dan dibeli. Tentunya hal ini merupakan potensi pangsa pasar yang amat menggiurkan, ia akan senantiasa eksis karena permintaan (demand) tidak akan pernah terhenti.

Di Yogya, buku amatlah melimpah. Kita akan mengerti betapa berharganya sebuah buku jika kita berada di daerah terpencil atau bahkan daerah ‘terisolasi’ yang akses untuk mendapatkan buku sangat sulit. Saya mengerti ini, ketika teman saya yang dulu lama di Jawa dan sekarang ‘terpaksa’ kuliah di Sumatera mengeluh. Ya, dia mengeluh karena akses buku di sana tidak semudah di Jawa. Bahkan beberapa kali ia meminta tolong untuk dipaketkan buku ke sana. Maka hargailah buku karena ia begitu berharga.

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

Buku adalah Dunia

‘Tanpa buku Tuhan diam, keadilan terbenam, sains alam macet, sastra bisu, dan seluruhnya dirundung kegelapan’ ucap Thomas V Bartholin (1672). Buku adalah makhluk ‘sakti’ yang menyimpan berjuta magi. Ia menjadi cerminan bagi orang yang memilikinya. Buku adalah jendela dunia, tanpanya kita tidak mampu berdialog dengan eksistensi di luar diri kita. Karena buku, sebagaimana yang diungkapkan Goenawan Mohamad, merupakan deretan simbol dan tanda yang berdialog dengan kita ketika kita membacanya. Bahkan Thomas Jefferson (1815) pernah berkata: “Saya tak bisa hidup tanpa buku”.

IMG_20140615_170249

Ini merupakan realitas yang tak terelakkan, buku tidak hanya merupakan sebuah benda yang statis, tapi juga dinamis. Jangan kira bahwa buku hanyalah kumpulan tumpukan kertas yang dijilid dan diterbitkan hanya karena mengejar keuntungan. Tidak, kawan. Buku lebih mulia dari itu. Ia merupakan satu eksistensi yang riil dan dinamis. Ia merupakan sebuah entitas hidup yang berkomunikasi dengan pembacanya secara dialektis. Ia memiliki kemampuan persuasif untuk mempengaruhi ‘lawan bicara’-nya. Setelah membaca buku, kadang kita bisa paham, kadang kita menangis, tertawa, bahkan mengerutkan dahi. Hebat, bukan?

Oleh karena itu, salah besar ketika mengartikan buku sebagai barang dagangan yang tak bernilai. Saking berharganya, Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) pernah berkata: “Hanya orang bodoh yang mau meminjamkan bukunya, tapi lebih bodoh lagi orang yang mengembalikan buku pinjamannya”. Nah, tentu saja kata-kata Gus Dur itu tidak bisa diartikan secara harfiah saja. Sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad al-Fayyadl (penulis buku ‘Derrida’), bahwa membaca Gus Dur harus ‘dialektis’, karena Gus Dur bukan teks yang linear. Artinya, bisa jadi Gus Dur ingin mengatakan bahwa: buku adalah barang yang sangat berharga, oleh karenanya jangan dipindahtangankan.

Buku bukanlah Tugu

Buku adalah realitas yang tak terpermanai, ia hadir sebagai gudang dari segala misteri dan imaji. Ibarat jendela, buku memberi kita udara untuk bernafas. Buku bukan hanya bicara tentang deretan huruf-huruf, tapi juga kata. Darinya, kita bisa merangkai makna sebagaimana yang kita pahami. Baris-baris yang tersusun rapi, memberi peluang kepada kita bahwa ia ingin ditafsiri. Ia tidak linier, ia dinamis dan mengajak kita berpikir. Maka, buku sebenarnya bukanlah wujud yang ada di luar diri kita, melainkan di dalam diri kita. Ketika kita memahami dan mendalaminya, tidak hanya akal kita saja yang berproses melainkan juga hati. Dengan membaca, kita terkadang bisa paham satu hal, dan kita bisa mengerti hal yang lain lagi. Buku merasuk pada taraf kesadaran kita yang paling dalam, sehingga simpul-simpul makna yang ada di dalamnya merajut menjadi tenunan keyakinan dan pengetahuan. Artinya, buku bukan barang mati yang diam, tapi ia bergerak merasuk ke hingga ke labirin-labirin kehidupan manusia dan (bahkan) menggerakkannya.

Oleh karenanya, tidak hanya mahasiswa, dosen, akademisi, ilmuwan, pakar dan para ahli saja, siapapun kita bisa menjadi ‘buku’, yakni menjadi manusia berkualitas dengan wawasan luas. Semua orang bisa ditafsiri sesuai kedalaman wawasan dari yang ia hasilkan melalui sebuah buku. Buku harus sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, ‘karena buku adalah gizi’ ucap quote salah satu penerbit. Maka dari itu, buku bukanlah tugu, ia bukanlah menara gading yang hanya sanggup diam dan membisu.(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s