Jogja ‘Menuju’ Jakarta

Posted: Mei 11, 2015 in Kota, Lingkungan, Refleksi
Tag:, , ,
Sumber: jogja.co

Sumber: jogja.co

“Duh, macet banget ya. Nggak kayak waktu aku pertama kali dateng ke Jogja beberapa tahun lalu, masih lengang banget” ucap seorang gadis yang kebetulan sedang saya antar pulang untuk kembali ke kosannya, sebut saja Nana (bukan nama samaran, eh).

Apa yang diucapkan oleh Nana, sebenarnya hanyalah ungkapan-ungkapan reflektif tanpa pretensi terkait keadaan sekelilingnya, di salah satu ruas jalan kota yang ‘katanya’ istimewa: Jogja. Jogja merupakan kota ke-sekian yang pernah saya tinggali (dalam jangka waktu yang agak lama), untuk saya pelajari dan saya serap nilai-nilai luhur kebudayaannya.

Sebagaimana lumrahnya anak muda yang datang ke Jogja, keperluan saya di kota ini juga tidak jauh-jauh dari aktifitas kampus, yakni kuliah. Kuliah di Jogja tentu punya warnanya tersendiri, terutama bila dibandingkan dengan Jakarta, tempat kelahiran saya. Kita tahu bahwasanya Ibu Kota dari negeri kita yang tercinta ini sudah hampir (atau bahkan benar-benar sudah) memasuki titik jenuh, titik di mana manusia-manusia yang tinggal di dalamnya tergerus dalam roda rutinitas yang membosankan. Banjir di mana-mana, macet, juga begal kendaraan bermotor yang seakan mempertontonkan pada kita bahwa Jakarta (agaknya) sudah kurang layak huni.

Sumber: foto.viva.co.id

Sumber: foto.viva.co.id

Seringkali ketika saya nongkrong dan ngopi, sembari berdiskusi ringan dengan beberapa rekan, sebagian rekan saya bertanya: “Bro, kenapa nggak kuliah di Jakarta aja, kan banyak kampus di sana, deket rumah pula?” Saya pun menjawab singkat: “Ada banyak hal yang tidak kamu ketahui dari Jakarta, Bro.”

Sumber: internations.org

Sumber: internations.org

Jakarta, kota metropolitan. Kota di mana banyak kepala mencoba peraduan nasibnya. Keras. Saking kerasnya, seakan frasa “survival of the fittest” benar-benar berlaku di Jakarta. Kota yang dulu bernama Batavia dan Sunda Kelapa, kini menjadi kota yang gemerlap dengan sejuta sisi gelap. Hingar-bingar yang dipertontonkan oleh media, sebenarnya menyimpan ‘ilusi’ dari fatamorgana kepuasan duniawi. Kota ini tak ramah bagi manusia, ia hanya ramah bagi industri dengan segala tetek bengeknya. Lihat saja, wajah-wajah letih bisa dengan mudah anda temui pada setiap pengendara mobil, motor, penumpang angkot, commuterline, transjakarta, atau bahkan bis kota. Jalan raya yang penuh sesak dengan asap dan roda, juga banjir yang dengan mudahnya menggenangi setiap sudut ruang-ruang terbuka, angka kriminalitas yang tinggi (yang) tentu saja sudah menjadi trademark bagi hampir setiap kota besar di negeri ini. Ironis.

Sumber: jogja.semberani.com

Sumber: jogja.semberani.com

Dan Jogja, sejauh pengamatan saya selama tinggal di kota ini (semoga saya salah), secara perlahan tapi pasti mulai menapaki ‘jalan’ sebagaimana yang pernah dilalui oleh Jakarta. Sudut-sudut kota yang kini kian ramai; kendaraan berjejalan tak beraturan; sawah-sawah yang telah berubah karena sekarang (meminjam istilah Gus Mus) telah ditanami rumah-rumah; hotel-hotel dan mall yang kian percaya diri menampakkan gemerlapnya berbaris rapi dengan segala keanggunannya; Malioboro yang dulunya menjadi tempat para seniman dan budayawan bercengkerama kini berubah menjadi destinasi wisata untuk berbelanja. Maka mau tidak mau, konsekuensi-konsekuensi sebagai kota yang sedang berkembang pesat secara ekonomi tidak bisa ditolak. Setiap tahunnya akan ada banyak pendatang (seperti saya) yang datang ke kota ini, tidak hanya untuk berwisata, tapi juga kuliah dan bekerja. Tidak sedikit pula pendatang yang rela mengganti KTP-nya menjadi KTP Jogja. Akibatnya apa? Jogja makin padat, macet, panas, krisis listrik, dan krisis air sudah menampakkan indikasi-indikasi kuatnya pada Kota Gudeg ini.

Tentu bukan ini yang diharapkan, dari kota yang disebut juga dengan “miniaturnya Indonesia”. Apalagi, baru kemarin rasanya Jogja melakukan launching rebranding-nya dengan tagline “istimewa”. Tagline yang sederhana (namun penuh makna) itu menyimpan sejuta harapan bagi setiap penduduk (baik asli maupun pendatang) yang tinggal di dalamnya. Karena tentu saja, masih banyak yang terlampau cinta dengan Jogja. Kota yang terbuka bagi siapa saja yang hendak mengunjunginya. Kota yang ramah dan nyaman untuk ditinggali. Sehingga kita merasa tak akan rela jika Jogja ‘digadaikan’ atau bahkan ‘dijual’ kepada para pemodal. Karena Jogja ora didol, Jogja not for sale. Tapi bukan berarti kita berhenti pada jargon belaka sembari menutup mata pada realita. Karena senyatanya, Jogja sudah mulai ‘menuju’ Jakarta. Entah dalam arti yang bagaimana. (*)

* Tulisan ini hanyalah pendapat pribadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s