16 Destinasi Wisata (Terpilih) di Jogja yang Saya Kunjungi sepanjang 2016 (Part 4-Habis)

Posted: Januari 3, 2017 in Travelling
Tag:, , , , , , , , , , , , ,

Finally, kita sampai di rangkaian terakhir  dari tetralogi postingan travelling saya yang me-review 16 tempat wisata di Jogja. Silahkan pembaca yang menilai sendiri, mana saja tempat wisata yang menurut pembaca wajib, recommended, penasaran atau ya… sekedar mengunjungi untuk jalan-jalan mengisi liburan. It’s okay, semua tergantung selera dan minat masing-masing.

Nggak berbeda dengan 3 part sebelumnya, bagian ke-4 ini juga akan menyuguhkan 4 destinasi wisata di Jogja yang saya kunjungi di tahun 2016 kemarin.

Di tahun ini (2017) atau di tahun-tahun yang akan datang, tentu ada beberapa hal yang (mungkin) akan berbeda dengan beberapa informasi yang saya paparkan, mungkin tarif retribusinya naik, tarif parkir berubah, suasananya berbeda dan lain sebagainya. Namun, menurut hemat saya hal itu merupakan hal lumrah bagi tempat wisata.

Sepanjang tahun, Jogja selalu ramai dikunjungi wisatawan, nggak hanya wisatawan domestik melainkan juga wisatawan asing dari berbagai belahan dunia. Tentu hal ini akan membuat Pemprov DIY berbenah demi menggenjot sektor pariwisata yang menjadi salah satu andalan Daerah Istimewa ini.

Anyway, kita sudah menyusuri 12 tempat wisata, mulai dari Kebun Teh Nglinggo di Kulonprogo hingga Pantai Kukup di Gunungkidul, kini saatnya kita untuk menikmati eksotisme desinasi selanjutnya, yakni…

13. Pantai Drini (Gunungkidul)

Pantai Drini ini tidak jauh lokasinya dari Pantai Kukup yang sudah saya post di Part 3. Pantai ini persis di sebelah timurnya Pantai Watu Kodok. Kalo pembaca ingin mengunjungi pantai ini, cukup melintasi Jalan Baron, nanti setelah pos retribusi, ambil jalan yang ke arah Kukup (ke arah timur/kiri), terus aja sampai melewati Pantai Kukup, Pantai Sepanjang dan Pantai Watu Kodok, nah setelah Pantai Watu Kodok nanti di kanan jalan ada penunjuk arah ke Pantai Drini.

Masuk ke pantai ini sudah tidak membayar retribusi lagi, karena kita sudah bayar di Jalan Baron. Kita cukup bayar tarif parkir kendaraan.

Untuk view-nya, nggak jauh beda dengan pantai-pantai Gunungkidul lainnya. Di seberang bibir pantai terdapat pulau yang bisa dijelajahi oleh pengunjung, namanya Pulau Drini. Mungkin pulau inilah yang menjadi alasan penamaan Pantai Drini.

Sesuai dengan karakter pantai Gunungkidul lainnya, pantai ini dipenuhi terumbu karang di bibir pantai. Namun herannya, saya mencoba menyusuri terumbu karang ini hingga agak jauh dari bibir pantai tanpa merasa perih di kaki, padahal saya nggak menggunakan alas kaki. Bukan karena saya sakti mandraguna, tapi emang tekstur karangnya lumayan bersahabat. Berbeda dengan yang saya alami sewaktu menyusuri karang di Pantai Poktunggal. Karang di Poktunggal lumayan tajam sehingga menyebabkan luka di hati kaki.

Ini dia view-nya…

img_20161119_144404

Pantai Drini

DCIM100MEDIA

DCIM100MEDIA

Tampak di belakang saya ada Pulau Drini

DCIM100MEDIA

Bila pengunjung capek dan menderita dahaga yang amat sangat, jangan khawatir, di pantai ini ada banyak penjual es kelapa. Pengunjung bisa memesan berbagai macam minuman dan makanan yang dijajakan sembari bersantai di gazebo-gazebo yang disediakan.

Next, sepulangnya dari Drini, saya lapar dan ingin rehat sejenak. Akhirnya, saya memutuskan untuk mampir di salah satu warung makan di Bukit Bintang (Pathuk). Sambil menunggu pesanan, mari menikmati panorama lampu-lampu kota Jogja yang berkilauan sebagaimana kamu bintang-bintang…

img_20161119_181456img_20161119_182706_999

Sekian untuk Pantai Drininya, selanjutnya mari kita beranjak menuju…

14. Gumuk Pasir Parangkusumo (Bantul)

Gumuk Pasir merupakan salah satu fenomena unik di Jogja. Ada yang bilang mirip Gurun Sahara. Ia terbentuk secara alami dan kini menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Jogja.

Di sini, pembaca bisa menyusuri hamparan padang pasir yang luas sembari hunting spot-spot untuk berfoto. Saran saya, jangan ke sini pas siang hari karena akan sangat panas. Lebih baik sore, syukur-syukur cuaca cerah dan pembaca bisa menikmati indahnya sunset di gumuk pasir ini.

Bagi yang suka permainan, ada penyewaan sandboarding di sini, sehingga pengunjung bisa berselancar di gurun pasir yang luas ini.

Rute ke tempat ini nggak sulit, pembaca cukup menyusuri Jalan Parangtritis menuju pantai. Sesampainya di pos retribusi Pantai Parangtritis, tanya saja petugas yang menjaga, dari situ sudah nggak jauh, nanti masuk aja ke Jalan Gumuk Pasir di sebelah kanan jalan.

DCIM100MEDIA

img_20161120_141407img_20161120_144357

DCIM100MEDIA

Matahari masih di atas, lumayan panas 😀

Usai berpanas-panasan di gumuk pasir, mari kita berbasah-basahan di…

15. Pantai Parangtritis (Bantul)

Nggak jauh dari lokasi gumuk pasir, Pantai Parangtritis ada di sebelahnya.

Pantai ini merupakan salah satu pantai yang populer dan menjadi salah satu ikon Jogja selain Malioboro. Setiap saya ke pantai ini, nggak jarang saya ngeliat banyak bis pariwisata lalu-lalang. Rombongan demi rombongan berdatangan. Pantai rame dan suasananya menyenangkan.

View terbaik (menurut saya) adalah sore hari, terutama jika tidak hujan, tidak mendung dan tidak berawan, maka pembaca bisa mendapatkan panorama sunset yang menakjubkan. Unfortunately, terakhir saya ke sana cuacanya berawan sehingga nggak dapet sunset. Tapi, ya lumayan lah… bisa maen basah-basahan juga udah seneng 😀

Saran saya, kalo berkunjung ke sini siapin baju salinan, biar bisa main air. Rugi kalo nggak basah-basahan. Hahaha…

20160105_09214520160105_094240_1

img_20161120_161521img_20161120_163812img_20161120_161530

img_20161120_155940

Kalo udah sore menjelang magrib, akan ada banyak penjual makanan dan minuman di pantai ini, jadi pengunjung nggak usah khawatir kelaparan: ada wedang ronde, siomay Bandung Bantul, jagung bakar, dan lain-lain.

img_20161120_164030

Menikmati wedang ronde. Ntap!

DCIM100MEDIA

Puas basah-basahan di pantai, kini saatnya kita mengakhiri rangkaian perjalanan dengan menghadiri…

16. Grebeg Mulud (Kraton)

Sepanjang yang saya ketahui, di Jogja ada upacara grebeg sebanyak 3 kali dalam setahun: Grebeg Syawal (Idul Fitri), Grebeg Besar (Idul Adha) dan Grebeg Mulud (Rabi’ul Awal). Dua grebeg yang saya sebut belakangan pernah saya hadiri. Untuk info lebih lanjut mengenai grebeg-grebeg ini, pembaca bisa berinteraksi secara langsung dengan admin twitter Kraton Jogja di @kratonjogja.

Saat menghadiri Grebeg Besar dan Grebeg Mulud, sebagaimana orang-orang yang berdatangan, saya juga ikut rebutan atau royokan gunungan yang diarak sewaktu grebeg. Seru, lho!

Sebelum diarak, gunungan biasanya didoakan terlebih di dahulu. Ada gunungan lanang dan ada gunungan wadon yang diperebutkan. Gunungan ini merupakan simbol dan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah yang selama ini diberikan-Nya, dan dalam gunungan ini warga Jogja menyimpan harap akan kebaikan dan keberkahan hidup ke depannya.

Gunungan-gunungan yang diarak nantinya disebar ke tiga titik, yakni alun-alun utara, Masjid Gedhe Kauman, dan di Pakualaman. Saya dua kali mengikuti event ini (Besar dan Mulud) selalu standby di Masjid Gedhe Kauman. Selain karena tempat yang lebih strategis, di halaman Masjid kita bisa menunggu gunungan datang sembari mencari tempat posisi yang pas, hal ini tentu sulit dilakukan jika kita menunggu di altar (alun-alun utara).

Setibanya gunungan sampai di halaman Masjid, biasanya panitia memberi pengumuman kepada warga yang hadir bahwa gunungan akan didoakan terlebih dahulu dan diharap untuk tidak memperebutkan gunungan sebelum doa selesai. Namun, apa mau dikata… doa belum selesai gunungan sudah dikeroyok massa. Haha…

Sejauh pantauan saya mengikuti event ini dua kali, warga tidak akan mengerubungi gunungan kalo belum ada yang memulai. Sekali saja ada orang yang memberanikan diri untuk memulai mengambil bagian gunungan, biasanya warga yang lain bakal ikut-ikutan, sehingga warning dari panitia sudah tidak dihiraukan. Gruduuuuuk…

Here we go!

img_20161212_102851

Lokasi: Halaman Masjid Gedhe Kauman. Menunggu gunungan.

img_20161212_103823

Rame euy!

Gunungan Lanang kayak di atas biasanya terdiri dari sayur-sayur yang bisa dikonsumsi, seperti kacang panjang, kentang, cabai merah dan lain-lain.

Kalo Gunungan Wadon kayak di bawah ini merupakan hiasan berbentuk kembang atau bunga yang terbuat dari ketan yang sudah dikeringkan, jadi nggak bisa dimakan, buat pajangan aja di rumah.

img_20161212_112122

Gunungan diletakkan, hendak didoakan

img_20161212_112142

Doa belom selesai udah ada yang mulai manjat gunungan duluan. Keliatan nggak yang manjat? 😀

img_20161212_122541_600

C’mon guys! Keburu gunungannya keabisan

img_20161212_112636

Setelah berdesak-desakkan dengan warga setempat, saya pun dapat satu kembang ketan dari Gunungan Wadon

img_20161212_112744

Ini penampakan kalo dari deket

Dua kali saya mengikuti event ini, selalu seru dan selalu bisa menikmati. Keceriaan dan kegembiraan warga Jogja yang berebut gunungan tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ada sebagian orang yang menganggap ini sebagai hiburan semata, tapi tidak bagi sebagian yang lainnya.

Saya pernah iseng-iseng ngobrol dengan satu mbah-mbah putri di halaman masjid ini saat menunggu gunungan. Saya tanya tentang orang-orang yang berebut gunungan dan faedah yang didapat. Si mbah menjawab dengan mantap bahwa (dipercaya) gunungan itu membawa berkah bagi siapa saja yang mendapatkan bagiannya, setidaknya untuk setahun ke depan. Saya pun mengangguk untuk mengiyakan. Saya semakin yakin dengan ucapan si mbah ini karena menyaksikan dengan kepala saya sendiri: ketika gunungan selesai diperebutkan, pasti ada sisa-sisa pecahan, patahan, atau remah-remah dari gunungan-gunungan yang diperebutkan itu. Nah, saya melihat ada banyak mbah-mbah yang sudah sepuh-sepuh memunguti dan mengumpulkan pecahan, patahan dan remah-remah gunungan itu dengan kantong kresek, telaten sekali. Sebagian orang mungkin menganggap itu sudah menjadi “sampah” karena sudah tidak berbentuk, tapi tidak bagi beberapa mbah-mbah sepuh yang mengumpulkannya. Mereka semua yakin bahwa sekecil apapun barang yang terpencar dari gunungan, tetap memiliki keberkahan tersendiri.

(Bagi pembaca budiman yang tidak memiliki keyakinan seperti mbah-mbah di atas mohon untuk tidak bersentimen negatif. Bagi saya, saling menghormati terhadap apa yang diyakini oleh masing-masing orang adalah kunci kedamaian bagi kita semua 😉 )

Ada satu hal yang unik di perayaan Grebeg Mulud yang tidak ada di Grebeg Besar maupun Syawal, yakni banyak penjual endog abang (telur merah). Apa itu? Endog abang merupakan telur rebus yang sudah matang kemudian diwarnai kulitnya dengan warna merah dan ditusuk dengan bambu serta diberi hiasan-hiasan dengan kertas.

Adapun filosofi dari ndog abang ini, sebagaimana dilansir oleh jogja.storykota.com dan teamtouring.net, ialah melambangkan tiga hal: Pertama, endog atau telur melambangkan kelahiran. Kedua, abang atau merah bermakna kesejahteraan. Sedangkan yang ketiga, helai ruas bambu panjang merupakan simbol hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta. Sehingga secara kesatuan endog abang dapat dimaknai sebagai simbol kelahiran kembali untuk masa depan yang lebih baik, lebih sejahtera dengan tetap berpedoman kepada garis yang ditentukan oleh Allah SWT.

Menurut sumber yang lain, telur melambangkan kelahiran. Bentuk bulatnya merupakan dunia tempat manusia dilahirkan sekaligus tempat mereka hidup. Kulit telur dilambangkan dengan Iman ataupun kesucian dan keagungan. Putih telur disimbolkan sebagai Islam dan kuningnya sebagai Ihsan. Jadi telur yang ditusuk dalam perayaan sekaten atau maulid Nabi SAW melambangkan bahwa Iman, Islam dan Ihsan harus disatukan dan ditegakkan ke atas berdasarkan kalimat Allah SWT. Selain itu, tusuk bambu juga melambangkan kelurusan, kekuatan, keteguhan. Dengan demikian, perayaan maulid Nabi diharapkan memberikan makna kepada umat Islam untuk selalu teguh, lurus dalam meneladani junjungannya, yakni manusia agung, Rasulullah Muhammad SAW.

Adapun endog abang ini bisa pembaca dapatkan dengan merogoh kocek 3 ribuan saja. Untuk hiasan telur yang lebih ciamik, biasanya dihargai lebih mahal sedikit, yakni 5 ribu. Namun, harga segitu tetap ramah di kantong jika kita mengingat pesan dan filosofi makna yang terkandung di dalamnya.

Menarik, bukan?

Penutup

Sebelum saya akhiri tetralogi postingan ini, Pertama, saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada pembaca yang sudah menyimak dari awal hingga akhir. Saya juga ingin berterimakasih kepada semua kru yang terlibat, terutama rekan-rekan kameramen yang telah berkenan mendokumentasikan jejak-jejak perjalanan ini 😀

O, ya… perlu pembaca ketahui, mayoritas foto yang saya tampilkan merupakan dokumen pribadi, kecuali beberapa foto yang merupakan milik orang lain dan telah saya tulis sumber di mana saya mengutip foto tersebut sebagai credit.

Kedua, untuk informasi-informasi yang saya sampaikan mungkin saja ada beberapa poin yang tidak tepat, kurang pas, tidak sesuai dan lain sebagainya, yah… namanya juga manusia, pasti ada salah dan ada lupa, termasuk lupa akan mantan. Hahahaha.

Ketiga, besaran tarif yang saya infokan bisa saja berubah sewaktu-waktu. Semua tergantung keputusan pengelola tempat wisata dan pihak-pihak terkait.

Keempat, komparasikan dan bandingkan info yang saya sajikan dengan berbagai sumber agar pembaca dapat informasi yang kaya dan lebih komprehensif.

Kelima, mohon maaf sebesar-besarnya bila selama postingan tetralogi ini ada kata-kata yang menyinggung dan kurang berkenan.

Keenam, harap baca doa sebelum bepergian untuk jalan-jalan.

Ketujuh, keep sporty, keep healthy, keep safety, sekian dan… terimakasih. Sampai jumpa di blogpost berikutnya.

Salam olahraga.

Iklan
Komentar
  1. Sri Andayani berkata:

    udh kusyuk bgt bc ni tulisan nyari referensi destinasi d Jogya, sampe scrol bbrpa x, pernah lihat dmana ya org yg d foto, sekayak familiar. Ya Rabb, empunya ternyata Mas Fuad wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk

    • aeymanusia berkata:

      Hahaha…terimakasih banyak mbak Sri sudah jauh2 berkunjung ke blog remeh temeh saya yg sederhana. Jangan sungkan2 untuk bertamu 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s